Your Adsense Link 728 X 15

KESENIAN LUDRUK

Posted by Kustio Delta Haryono Sunday, 21 October 2012 0 comments
KESENIAN LUDRUK

Kebanyakan dari kita tentu mengetahui, atau setidaknya pernah mendengar, tentang seni Ludruk. Kesenian yang memiliki format pertunjukan sandiwara ini berasal dari Jawa Timur. Dan pastinya kita pun langsung berasumsi bahwa seni ludruk adalah sebuah pertunjukan hiburan yang humoris belaka. Hal ini dapat dimaklumi mengingat memang demikianlah ‘image’ ludruk masa kini dalam perspektif kebanyakan masyarakat kita.
Namun jika ditelaah lebih jauh mengenai sejarah perkembangannya, ternyata seni ludruk pernah menjadi instrumen perlawanan rakyat jelata atau wong cilik terhadap kekuasaan baik semasa era feodalisme Jawa, kolonialisme Eropa maupun fasisme Jepang. Pada masa-masa itu, ludruk menjadi wadah pelampiasan kekesalan dan kemuakan rakyat terhadap penindasan kekuasaan, ketika rakyat merasa tidak mampu untuk mengadakan perlawanan secara frontal. Ludruk menjadi sebuah seni pertunjukan yang menentang arogansi kekuasaan kaum feodal dan kolonial secara sarkastik.
Sejarah Seni Ludruk
Bila meninjau sejarah, terdapat dua versi sejarah kemunculan ludruk. Salah satu versi menyatakan bahwa ludruk merupakan kesenian rakyat yang berasal dari daerah Jombang. Sementara versi lainnya menjelaskan bahwa ludruk pertama kali muncul di kota Surabaya. Beberapa versi juga menjelaskan asal muasal dari nama ludruk. Dikatakan bila istilah ‘ludruk’ berasal dari pertunjukan yang diadakan tukang lawak atau badut yang berkeliling dari rumah ke rumah sambil menari dengan menghentakkan kakinya ke tanah sehingga menimbulkan suara “gedruk-gedruk”. Dari sinilah nama ludruk kemudian digunakan.
Tidak diketahui secara pasti pada masa apa sesungguhnya kesenian ludruk itu muncul. Bagi pihak yang meyakini bahwa seni ludruk lahir di Jombang, menurut mereka ludruk muncul di awal abad 20. Seni ludruk berawal dari seni pertunjukan yang diisi lantunan syair dan tetabuhan sederhana. Pentas seni tersebut dilakukan secara berkeliling dari rumah ke rumah atau ngamen. Para pemainnya yang seluruhnya laki-laki mengenakan pakaian wanita dan wajahnya dirias sedemikian rupa seperti badut. Oleh sebab itu masyarakat menamai para pemain kesenian itu sebagai Wong Lorek, yang dikemudian hari berubah menjadi Lerok dan digunakan untuk menamai seni pertunjukan tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, seni lerok berubah nama menjadi seni ludruk.
Sementara versi lainnya menyatakan bahwa cikal bakal seni ludruk sebenarnya telah ada sejak masa Kerajaan Kanyuruhan di Jawa Timur pada abad 8 (S.Wojowasito, 1984). Sebagai buktinya, ada peninggalan peradaban abad 8 berupa Candi Badut yang dipercaya sebagai peninggalan para seniman badut masa itu. Lalu apa kaitan badut dengan ludruk? Merujuk pada kamus Javanansch Nederduitssch Woordenboek karya Gencke dan T Roorda (1847), ludruk  dapat diartikan sebagai Grappermaker atau badutan. Jadi, pada masa itu ludruk atau badutan merupakan pertunjukan rakyat yang sifatnya humoris namun memiliki nuansa perlawanan terhadap kekuasaan dan kebudayaan adiluhung milik kalangan elit kerajaan.
Nuansa perlawanan seni ludruk pun berlanjut dimasa penjajahan Belanda dan Jepang. Berbagai tema cerita yang mengobarkan semangat perlawanan dan rasa kebencian rakyat terhadap penguasa kolonial dipentaskan oleh banyak grup ludruk. Kisah-kisah semacam “Sarip Tambak Oso” dan “Sakera” yang mengangkat cerita heroisme rakyat Jawa Timur dan Madura dalam melawan VOC Belanda amat populer dimasa penjajahan.
Salah satu tokoh seniman ludruk yang senantiasa mempropagandakan nilai-nilai nasionalisme dan anti kolonialisme adalah cak Durasim. Beliau mendirikan sebuah organisasi ludruk pada tahun 1933 yang bernama Ludruk Oraganizatie (LO). Organisasi Ludruk ini populer di kalangan rakyat karena keberaniannya dalam mengkritik imperialis Belanda maupun Jepang. Perjuangan cak Durasim dan kawan-kawan berujung pada penangkapan dan pemenjaraan mereka oleh penguasa fasis Jepang sebagai akibat lirik kidungan Jula Juli yang dilantunkan grup cak Durasim pada sebuah pementasan. Kidung tersebut memuat lirik yang menyinggung pemerintah Jepang yakni, “Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro”. Konon cak Durasim disiksa oleh Jepang hingga wafat dalam tahanan.
Pada masa kemerdekaan, ludruk menjadi alat propaganda berbagai partai politik, seiring dengan kontestasi politik yang kencang baik dimasa demokrasi liberal tahun 1950-an  maupun masa demokrasi terpimpin tahun 1960-an. Namun, hanya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Lekra lah yang paling gencar mengakomodasi ludruk sebagai instrumen perjuangan ideologis. Hal ini terkait dengan landasan perjuangan PKI dan Lekra yang ingin mengangkat seni budaya rakyat sebagai alat perjuangan melawan dominasi kebudayaan imperialis yang tidak sesuai dengan karakter bangsa. Perjuangan PKI di lapangan kebudayaan tersebut seiring dengan politik anti nekolim yang digelorakan Presiden Soekarno ketika itu. Grup ludruk dibawah naungan PKI yang paling populer adalah Ludruk Marhaen yang pernah pentas diistana negara sebanyak 16 kali.
Menyusul kejatuhan Bung Karno dan penumpasan kekuatan politik kiri pasca tragedi 1965, seni ludruk pun mengalami masa-masa sulit. Rezim militer Orde Baru mengekang bahkan melarang pementasan ludruk selama beberapa waktu. Ludruk diidentifikasi sebagai seni komunis yang lekat dengan Lekra. Di awal dekade 70-an, ludruk kembali diizinkan untuk eksis oleh pemerintah namun dengan pengawasan dan pembinaan yang ketat oleh pihak militer. Di berbagai daerah terjadi peleburan dan pembentukan grup-grup ludruk dengan supervisi yang mutlak dari struktur komando teritorial militer. Esensi seni ludruk yang awalnya merupakan wadah perlawanan rakyat terhadap penguasa pun berangsur hilang. Ludruk beralih menjadi alat propaganda berbagai program pemerintah Orde Baru seperti Repelita maupun Keluarga Berencana (KB).


Ludruk di Masa Kini

Setelah reformasi, seni ludruk kembali independen dari kekangan aparatur ideologis kekuasaan. Namun terjangan mekanisme pasar juga berdampak pada makin lunturnya nilai-nilai kerakyatan dan heroisme dari seni ludruk. Ludruk hanya menjadi seni hiburan yang mengundang gelak tawa penonton belaka, tanpa ada tujuan yang jelas dari cerita yang dipentaskan. Faktanya, memang masih ada kisah-kisah yang bermuatan kritik sosial dilakonkan dalam seni ludruk masa kini, tetapi ‘roh’ dari seni ludruk sebagai alat perlawanan wong cilik terhadap imperialisme seringkali tidak muncul pada kebanyakan pertunjukan ludruk kini. Situasi faktual yang menunjukkan terancamnya nasib jutaan kaum Marhaen negeri ini oleh sistem imperialisme baru, menuntut kita untuk mengembalikan seni ludruk pada ‘khittahnya’ sebagai “penyambung lidah” wong cilik.
*) Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang dan alumni Antropologi Universitas Padjajaran (Unpad)

GAMELAN

Posted by Kustio Delta Haryono Saturday, 20 October 2012 0 comments
Gamelan, Orkestra a la Jawa


Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.

Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.
Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.
Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.
Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.
Kendang
Kendang adalah instrumen pemimpin. Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. Ada
5 ukuran kendang dari 20 cm – 45 cm.
Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. Ada 3 macam Saron; Saron Barung, Saron Peking, Saron Demung.
Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul.
Slentem
Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya.
Gender
Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak.
Gambang
Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.
Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm, terbuat dari bronze, Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang.
Kempul Gong kecil, untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul.
Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan, satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog.
Ketug
Disebut juga kenong kecil, menandakan jeda antar lirik lagu.
Clempung
A string instrument, each slendro and pelog set needs one clempung.
Siter
Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter.
Suling
Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling.
rebab Alat musik gesek Keprak and Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari
Bedug
Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E-F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.
Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer.
Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.
Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 -12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.

Seni Pedalangan Jawa Timuran

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
1. Tentang istilah “Seni Pedalangan Jawa Timuran “
Apabila orang mempermasalahkan tentang istilah “Seni Pedalangan Jawa Timuran, maka pembicaraannya harus berangkat dari apa yang disebut “Kesenian Jawa Timur”. “Kesenian Jawa Timuran” adalah suatu bentuk Kesenian tradisional yang hidup dalam lingkung etnis seni budaya daerah, seturut dengan selera masyarakat Jawa Timur”.Tentang istilah “ Jawa Timur “ merupakan istilah yang sebenarnya belum lama muncul di Daerah Jawa Timur itu sendiri, yaitu sejak ikut sertanya Pemerintah daerah Jawa Timur, Khususnya Kantor Bidang Kesenian Propinsi Jawa Timur bersama-sama para seniman tergelitik untuk menggali kesenian tradisional di daerah ini dalam rangka pelestarian Kebudayaan daerahnya. Kemunculan peristilahan tersebut sebenarnya bukan merupakan perumusan yang konseptual, melainkan hanya karena suatu tujuan kepada kemudahan dan pemahaman arti, secara spontanitas. Meskipun demikian agaknya oleh Kantor Bidang Kesenian Propinsi Jawa Timur pun disetujui juga. Berdasarkan hal tersebut di atas, tentunya cabang-cabang Seni yang berciri khas kedaerahan yang searah dengan selera masyarakat Jawa Timur, otomatis akan diistilahkan dengan sebutan “ Jawa Timuran “, misalnya :
* Cabang Seni Tari akan disebut Tari Jawa Timuran.
* Cabang Seni Karawitan disebut Karawitan Jawa Timuran.
* Cabanag Seni Tembang Macapat akan disebut Macapat Jawa Timuran.
Dengan demikian cabang seni Pedalangan pun sudah selayaknya apabila mendapat sebutan “Seni Pedalngan Jawa Timuran”. Wayangnya pun disebut “wayang Jawa Timuran”. Tentang istilah yang digunakan untuk menyebut “Seni Pedalangan”daerah Jawa Timur, sebenarnya di Surabaya khususnya, telah memiliki istilah yang telah lama popular, yaitu dengan penyebutan “Wayang Jek Dong”, suatu istilah yang bersumber dari bunyi kepyak (=Jeg) yang berpadu dengan bunyi kendhang bersama Gong Gedhe. Ada lagi yang menyebut wayang dakduan bunyi kendhang dengan bunyi gong besar, yang terjadi ketika sang dalang melakukan “kabrukan tangan (berantem)” di awal adegan perangan. Namun istilah tersebut tak bisa merata di seluruh kawasan ethnis Jawa Timuran ( di luar kota Surabaya ). Mengapa? Sebab sebutan tadi timbul bukan dari para seniman dalang itu sendiri. Justru bagi dalang yang lebih tua, mendengar sebutan wayang jek-dong atau dak dong merasa direndahkan (diejek).Dimungkinkan istilah lama itu timbul dari suara penonton, yang tentunya mereka tanpa memikirkan kaidah-kaidah seni ( asal ngomong/asal ngarani ). Untuk itu para dalang menyatakan ketidak setujuannya, sebab memang mereka tidak pernah memberikan sebutan itu, dan lagi dari generasi tua (leluhur) belum pernah ada yang mewariskannya. Maka begitu mendengar istilah “Kesenian Jawa Timuran”,mereka berangsur-angsur tanpa konsep menyebut Pedalangannya menjadi “Seni Pedalangan Jawa Timuran” itulah yang digunakan sebagai komunikasi seni antara seniman dengan seniman (dalang dengan dalang), baik secara individu maupun kebersamaan dalam forum-forum rapat ataupun diskusi. Begitu pula tentang apa arti peristilahan tersebut seniman dan masyarakat telah dapat memahaminya.
Selanjutnya Seni Pedalangan Jawa Timuran/Wayang Jawa Timuran itu sendiri, apabila ditinjau secara garis besar, mengenai bahan, peralatan, penampilannya secara fungsional tidak berbeda dengan Seni Pedalangan versi daerah lain (Bandung,Banyumas, Yogya, Solo dan Bali). Namun secara penelitian detail perbedaan-perbedaan itu pasti ada, yang tentunya terletak pada gaya penampilan yang berselerakan kedaerahan. Justru “selera daerah” inilah yang akan menjadi topik pembicaraan dalam forum diskusi (sarasehan) kali ini. Dan semoga saja dengan istilah dan selera kedaerahan inilah dapat terangkat ke atas lebih tinggi lagi, sehingga akan semakin kaya seni budaya di negeri Indonesia tercinta ini.
2. Kehidupan Seni Pedalangan Jawa Timuran.
Seni Pedalangan Jawa Timuran atau yang sering disebut Wayang Jawa Timuran, pada masa sekarang ini memang boleh dikata tidak hidup subur. Ia hidup dalam kawasan ethnis seni budaya daerah Jawa Timuran, di antaranya di wilayah kabupaten Jombang, Mojokerto, Malang Pasuruan, Sidoardjo, Gresik, Lamongan dan di pinggiran kota Surabaya. Ini pun sebagian besar berada di desa-desa, bahkan ada yang bertempat di pegunungan. Melihat daerah propinsi Jawa Timur yang begitu luas dan jumlah penduduk yang sangat padat itu, berarti kehidupan seni Pedalangan Jawa Timuran tersebut hanya berada dalam wilayah yang sangat sempit. Dan ini berarti juga bahwa jumlah kesenian Pedalangan Jawa Timuran tidak banyak jumlahnya. Sedang arus kesenian dari daerah lain mengalir ke Jawa Timur dengan sangat derasnya, termasuk seni Pedalangannya (Solo, Yogya). Demikian pula seni budaya dari negara lain pun tidak ketinggalan hadir di tengah-tengah masyarakat Jawa Timur begitu cepat dan mudah berkembang.
Dengan masuknya seni Budaya dari luar tersebut sudah tentu akan berpengaruh besar terhadap masyarakat untuk tidak mencintai seni budaya daerah setempat. Dalam hal ini terutama kesenian daerah Jawa Timur dengan mudah akan tersingkir minggir, atau setidak-tidaknya akan menghambat kesenian daerah setempat di dalam pelestarian berikut pengembangannya.
Atas dasar pengaruh-pengaruh sepertri tersebut diatas, maka tidak sedikit orang menyatakan bahwa hal itulah yang akan mempercepat proses kemunduran sementara orang mengkhawatirkan terhadap kepunahannya, bila tidak ada usaha-usaha pembinaan dari pihak yang berwenang atau yang merasa handarbeni. Hanya usaha pembinaan itulah yang diharapkan oleh para seniman dalang Jawatimuran, yang sebagian besar terjadi dari rakyat cilik.
Namun rupa-rupanya pembinaan yang diharapkan itupun masih juga langka, sehingga seni wayang Jawa Timuran tersebut dalam kehidupan seolah-olah hanya bisa berjalan dengan sendirinya, tanpa pengayoman dari siapapun.
Instansi Pemerintah di Jawa Timur yang setiap saat mengadakan suatu pergelaran wayang Kulit purwa gaya Jawa Timuran adalah baru RRI stasiun Surabaya saja. Ini pun disebabkan oleh suatu tugas wajib yang harus dilakukan RRI dalam rangka mengisi siaran kesenian daerah, yang hanya diperuntukkan bagi pendengaran masyarakat Jawa Timuran.
Pergelaran-pergelaran yang pengadaannya secara rutin itu patut kita junjung tinggi, namun hal ini belum merupakan suatu pelestarian, sebab sesuai pertunjukan tanpa ada bekas-bekasnya. Tak ada lagi pembicaraan, perenungan ataupun permasalahan apa-apa, lebih-lebih sampai pada pembinaan. Sedang di Taman Budaya sendiri sejak masih bernama kantor Pembinaan Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sampai sekarang. Meskipun masih terdapat kursus pedalangan dengan fasilitas yang lengkap, namun ini berupa kursus pedalangan gaya Surakarta.
Kira-kira tahun 1970 Pemerintah Kota Madya Surabaya pernah juga mengadakan suatu pesta kesenian Wayang Kulit purwa yang diselenggarakan di tiap kecamatan tetapi hal tersebut mayoritas Pedalangan gaya Surakarta.
Jumlah dalang Jawa Timuran yang memiliki reputasi hanya bisa dihitung dengan jari saja, dan lagi mereka semua itu tergolong tua. Demikian sekilas gambaran keadaan seni pedalangan Jawa Timuran pada masa-masa Orde Baru ini. N
Daftar Dalang Jawatimuran
1. Suwoto (Porong)
2. Cung wartanu (Mojosari, Mojokerto)
3. Wasis (Trowulan, Mojokerto)
4. Suwedi (Kriyan, Sidoharjo)
5. Hernowo (Mojosari, Mojokerto)
6. Kadir Sunyoto (Gunung Kawi Malang)
7. Subroto (lamongan)
8. Suleman (Gempol,, Pasuruan)
Ciri Wayang Jawatimuran
Pada garis besarnya pertunjukan wayang jawa Timuran masih taat asas pada 11 unsur pertunjukan wayang seperti konvensi pertunjukan wayang di Jaawa Tengah. Kesebelas unsure dimaksudkan adalah :
1. Sabetan
2. Janturan
3. Carios/Kandha/carita
4. Suluk (mood song)
5. Tembang/sekar
6. Ginem, pocapan/antawecana
7. Dhodhogan
8. Kepyakan, kecrekan
9. Gending
10. Gerong atau koor pria
11. Sindenan
Ada enam ciri khas
1. Iringan musik gamelan disajikan dalam empat pathet yakni pathet sepuluh, pathet wolu, pathet sanga dan pathet serang.
2. Se-analog dengan fungsi iringan musik gamelan, fungsi kendang dan kecrek sebagai pengatur irama gending amat dominan.Maka wayang Jawa Timuran juga disebut wayang cekdong (anomatope bunyi kecrek dan dong bunyikendang). Konon istilah ini dilansir oleh dalang terkenal Ki Nartosabdo. Kultur waayang Jawa Timuran dipilah dalam beberapa subkultur yang lebih khas,mengacu ke estetika etnik (keindahan tradisi lokal) yakni subkultur Mojokertoan, Jombangan, Surabayan, Pasuruhan dan Malangan.
3. Konvensi pedalangan Jawa Timuran hanya menyajikan dua panakawan yakni Semar dan Bagong. Konvensi ini taat pada cerita relief candi Jago Tumpang cerita Kunjarakarna, punakawan hanya dua Semar dan Bagong. Dalam seni tradisional yang lain, punakawan juga dua orang yakni Bancak dan Doyok atau cerita Damarwulan hanya dua yakni Sabdopalon dan Naya Genggong.
4. Dalang Jawa Timuran tidak menyajikan adegan Gara-Gara secara khusus yakni munculnya Semar, Gareng,Petruk dan Bagong sesudah badayoni tengah malam. Kemunculan punakawan dan adegan lawak disesuaikan dengan alur cerita atau lakon yang dipentaskan.
5. Bahasa dan susastra pedalangan Jawa Timuran amat dominan didukung oleh bahasa Jawa dan dialek lokal Jawa Timuran. Maka muncullah bentuk sapaan Jawa Timuran Misalnya Arek-arek, rika, reyang.
6. Pada awal pertunjukan ki dalang mengucapkan suluk Pelungan. Suluk Pelungan terkait dengan doa penutup pada adegan tancep yang diucapkan ki dalang yang isinya
1. ki dalang memperoleh berkah dan keselamatan dalam menggelar kisah kehidupan para leluhur
2. pemilik hajat semoga dikabulkan permohonannya, niat yang suci/tulus dalam selamatan tersebut.
3. Para pendukung pertunjukan wayang (para pengrawit, biyada, dan sinoman) serta semua penonton selalu rahayu, selamat sesudah pementasan tersebut berakhir.

MAKANAN KHAS KAB.BONDOWOSO

Posted by Kustio Delta Haryono Thursday, 18 October 2012 0 comments
Makanan khas Bondowoso adalah tape manis Bondowoso, yang umumnya dikemas dalam bèsèk (anyaman dari bambu berbentuk kotak). tape ini terbuat dari singkong , wisatawan mancanegara menyebutnya fermented of cassava, mirip seperti peyeum di Jawa Barat. Tapi rasa tape manis bondowoso lebih khas. banyak wistawan dari luar bondowoso yang rela datang ke bondowoso hanya untuk membeli tape manis ini
 
merk tape manis yang terkenal antara lain Tape manis 82, tape manis 31,Mana Lagi, 66 dll. Toko penjual tape manis Bondowoso pada umumnya terkonsentrasi di Jalan Jendral Sudirman dan Teuku Umar atau lebih dikenal daerah Pecinan.Jl jendral sudirman.Selain Tape, makanan khas turunan dari tape juga banyak dijual di Bondowoso seperti Suwar-suwir, dodol Tape, Tape bakar dll.

 

TRADISI DIBAAN

Posted by Kustio Delta Haryono Tuesday, 9 October 2012 0 comments

TRADISI DIBAAN DI JAWA TIMUR

TRADISI DIBAAN DI JAWA TIMUR

Diba’an merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa Timur yang biasanya dilakukan pada saat Maulud Nabi, namun diba’an lebih sering dilakukan pada saat malam minggu tiba. Diba’an bisa diartikan dalam pertemuan silaturrahmi warga, acara utamanya ialah membaca diba' atau barzanji, yang merupakan sejarah Nabi Muhammad SAW. Dalam acara diba’an semuanya yang dibaca adalah tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, mulai dari lahirnya sampai meninggal dunia, ini untuk mengenang dan mengingatkan kembali kepada Nabi kita, Muhammad SAW, agar tumbuh dan bersemi rasa kecintaan dalam hati kita kepada Beliau.
Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah yakni Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.
Diba’an juga merupakan sebuah acara pembacaan shalawat bersama-sama secara bergantian. Ada bagian dibaca biasa, namun pada bagian-bagian lain lebih banyak menggunakan lagu sambil bersaut-sautan yang diiringi dengan alat musik yang bernama terbangan.
Pada saat malam minggu tiba, warga mulai bersiap-siap dari mesjid melakukan tradisi diba’an, anak-anak kecil di bawah umur pun turut serta. Mereka pun bertandang ke rumah-rumah warga dengan menggunakan obor. Mengapa menggunakan obor? Obor berfungsi sebagai penerang, karena jarak rumah warga satu dengan yang lainnya cukup jauh dan minim akan penerangan lampu jalan, maka mereka berinisiatif menggunakan obor sebagai pelita mereka untuk sampai ke tempat tujuan.
Rumah warga yang didatangi pun bergantian. Tidak hanya di satu tempat saja. Setiap warga kebagian giliran menjadi tempat singgah, seperti layaknya arisan, rumah warga yang mendapat giliran diba’an ini biasanya menyediakan makanan ringan untuk warga yang berdatangan ke rumah tersebut.
Anak-anak di bawah umur sudah terbiasa dengan adanya tradisi di daerah kelahirannya. Tradisi diba’an ini pun dimaksudkan untuk lebih mengenalkan kepada anak-anak tentang keimanan kepada Tuhan. Mereka jadi lebih religius dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.
Seperti yang dikatakan di atas, diba’an tidak hanya membaca ayat-ayat suci atau membacakan shalawat, melainkan diiringi dengan alunan musik. Mengapa demikian? Karena memang tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun menyukai musik, jadi diba’an dikemas sedemikian rupa supaya tradisi ini menjadi acara dengan keunikan tersendiri.
Anak-anak pun jadi lebih mudah menghafal shalawat nabi dengan diiringi alat musik terbangan. Tidak hanya itu, alat musik terbangan sebagai pengiring pun menjadi salah satu kesenian tradisional yang dikenal oleh anak-anak dan mereka secara tidak langsung bisa mempelajari sekaligus melestarikannya.
Dalam pelaksanaannya diperlukan pemahaman terhadap isi diba' yang dibaca, agar umat yang menghadiri pertemuan tersebut, utamanya mereka yang dari kalangan awam, dapat mengerti dan dapat mengambil teladan dari perilaku Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diceritakan di dalamnya.
Untuk tujuan tersebut dapat dicari cara dan metode praktis yang menyenangkan dan tidak membosankan. Barangkali untuk tujuan tersebut tidak semata-mata menerjemahkan bacaan diba' itu sendiri, tetapi setelah diba'an selesai, lalu diberikan tausiyah oleh salah seorang tokoh atau ulama mengenai bacaan diba' yang selalu dibaca dalam pertemuan silaturrahmi tersebut. Tentu tidak dengan menerjemahkan secara harfiah, melainkan dapat pula dikemas dengan dakwah yang menarik dan dibahasakan secara sederhana dan merakyat.
Dengan acara diba’an ini diharapkan semua elemen warga, termasuk para intelektual, para ulama, dan masyarakat pada umumnya, akan dapat menyatu dan berkumpul bersama-sama. Diba’annya sendiri juga perlu dilestarikan dalam kalangan warga, tetapi yang lebih penting lagi ialah silaturrahmi dengan sesama warga yang tersebar dalam berbagai peran di masyarakat yang selama ini akan sangat sulit untuk bertemu atau dipertemukan. Selain itu, silahturrahmi memang sangat bermanfaat bagi diri kita dan juga masyarakat pada umumnya, seperti yang dikatakan Nabi Muhammad SAW. Beliau mengatakan bahwa silaturrahmi akan dapat memperpanjang umur, memperbanyak dan memperluas rizki. Ada kepuasaan tersendiri ketika kita diberi kesempatan untuk bersilahturrahmi dengan sesama manusia, timbul rasa tenang dalam diri, kebersamaan yang terjalin dengan sesama muslim, serta timbulnya jiwa kekeluargaan dengan kesederhanaan dalam hidup, dan juga ketenangan jiwa dan pikiran, ketulusan dalam setiap langkah kita menjalani hidup tentu dapat membuat diri semakin merasa bersyukur akan nikmat hidup yang telah Tuhan beri, itulah yang menjadi teladan dalam memandang hidup ini.


Sumber:
•http://ahmadbuhori.blogspot.com/2009/12/terbanganmarhabaandibaantawasulan.html
•http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=7&id=658
•http://www.muhibbin-noor.com/?op=informasi&sub=2&mode=detail&id=229&page=1/

Asal-usul Tari Tor-tor dan Alat Musik Gondang 9

Posted by Kustio Delta Haryono Saturday, 6 October 2012 0 comments

Asal-usul Tari Tor-tor dan Alat Musik Gondang 9 

TEMPO.CO, Jakarta - Kantor berita Malaysia, Bernama, melansir berita bahwa Menteri Rais berencana mendaftarkan kedua budaya masyarakat Sumatera Utara itu dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005. Menanggapi klaim Malaysia, Ketua Lembaga Adat Sidempuan Saleh Salam Harahap angkat bicara. (Baca: Malaysia Pengin Klaim Tarian Tortor)

Saleh menyatakan alat musik gondang 9 (sembilan gendang) dan tari tor-tor adalah budaya yang telah lama ada dan dikenal luas di suku Batak dan Mandailing. ”Budaya itu sudah ada sejak 500 tahun lalu di Mandailing,” katanya, Minggu 17 Juni 2012. (Baca: Malaysia Klaim Tari Tortor, Indonesia Harus Tegas)

Ia pun menceritakan asal-usul kesenian Indonesia ini. Alat musik gondang 9 dan tari tor-tor digelar bersamaan. Pada suku Mandailing, gondang 9 dan tari tor-tor digelar untuk perayaan, hajatan, dan penyambutan tamu yang dihormati.

Pada masa kolonial, kesenian ini menjadi hiburan para raja dan sebagai bentuk perlawanan terhadap serdadu Belanda. Ada bunyi tertentu yang ditabuh, menandakan kedatangan serdadu Belanda. Ketika gondang dibunyikan, masyarakat diminta mengungsi. "Bunyi lainnya meminta masyarakat untuk kembali ke kampung karena serdadu sudah pergi,” Saleh berujar.

Suku Mandailing pun berbeda-beda dalam menyebut alat musik gondang. Mandailing yang bermukim di wilayah Angkola, Sidimpuan, Tapanuli Selatan, mengenal dengan sebutan gondang 2. Sebelumnya disebut gondang 7 di tiga wilayah itu. Hanya di Mandailing Natal yang sebutannya tetap sampai sekarang, gondang 9.

Adanya perubahan sebutan gondang 7 menjadi gondang 2 karena kesenian budaya ini sempat dilarang pada masa penjajahan. Mengingat sering digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap kompeni. ”Alatnya juga berat untuk dibawa bila mengungsi,” kata Saleh.

Saleh yakin upaya Malaysia mengklaim budaya itu akan dihadang komunitas Mandailing yang tersebar di Malaysia. (Baca: Lembaga Adat Mandailing Lawan Klaim Malaysia)

”Ada dua lembaga adat Mandailing di Malaysia, dan saya kenal pada pemangku adatnya. Tidak mungkin para pemangku adat Mandailing di Negara Bagian Perak, Malaysia, dan di Kuala Lumpur menggadaikan kebudayaan sukunya,” kata Saleh.

Dia menuturkan ada Lembaga Paham (Persatuan Halak Mandailing-Malaysia) di Kuala Lumpur. Saleh yang kerap berkunjung ke Malaysia dalam rangkaian kegiatan kebudayaan menyebutkan 26 kampung suku Mandailing di negeri jiran. Mereka mayoritas bermarga Harahap, Siregar, Nasution, dan Hasibuan. ”Kesehariannya di kampung itu mereka menggunakan bahasa Mandailing,” Saleh berujar.

SOETANA MONANG HASIBUAN | NIEKE INDRIETTA

ASAL USUL JANGER BANYUWANGI

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments

ASAL USUL JANGER BANYUWANGI

Pada abad ke-19, di Banyuwangi hidup suatu jenis teater rakyat yang disebut Ande-Ande Lumut karena lakon yang dimainkan adalah lakon Andhe-Andhe Lumut. Dan dari sumber cerita dari mulut ke mulut, pelopor lahirnya Janger ini adalah Mbah Darji, asal Dukuh Klembon, Singonegaran, Banyuwangi kota. Mbah Darji ini adalah seorang pedagang sapi yang sering mondar-mandir Banyuwangi-Bali, dan dari situ dia tertarik dengan kesenian teater Arja dan dia pun berkenalan dengan seniman musik bernama Singobali yang tinggal di Penganjuran, dari situlah kemudian terjadi pemaduan antara teater Ande-Ande Lumut dengan unsure tari dan gamelan Bali, sehingga lahirlah apa yang disebut Damarwulan Klembon atau Janger Klembon.
Semenjak itu, mulai lahir grup-grup Damarwulan di seantero Banyuwangi. Mereka bukan hanya memberikan hiburan, namun juga menyisipkan pesan-pesan perjuangan untuk melawan penjajah dengan kedok seni. Di masa revolusi, kerap kali para pejuang kemerdekaan menyamar sebagai seniman Janger untuk mengelabui Belanda dan para mata-matanya.
Menurut Dasoeki Nur, seorang pelaku kesenian Janger, teater ini juga sempat berkembang hingga melampaui wilayah Banyuwangi sendiri. Bahkan menurutnya lagi, pada tahun 1950an pernah berdiri dua kelompok Janger yang berada di wilayah Samaan, dan Klojen, kota Malang.

MINAK JINGGO
Di dalam kesenian janger/damar ulan/jinggoan tokoh yang sangat sering di lakonkan di dalamnya adalah MINAK JINGGO yang menurut legendanya adalah salah satu bupati Blambangan.
Dalam temperamennya, Minak jinggo di gambarkan sebagai seorang bupati yang gagah perkasa,namun pincang, suka makan sirih, buruk rupa, suka bertindak sewenang-wenang dan mempunyai pendamping setia dan selalu ada yaitu abdi kinasihnya DAYUN.
Seorang yang belum menikah/perjaka yang ingin Nagih janji ke Ratu Majapahit, yaitu Dyah Ayu Kenconowungu. Karena berhasil mengalahkan seorang raksasa bertanduk kerbau yaitu KEBO MARCUET.
Namun di masyarakat Banyuwangi, Minak Jinggo di gambarkan sebagai seseorang yang gagah perkasa, ganteng, sopan santun, dan selalu di gandrungi oleh wanita.Entah yang mana yang benar semua itu adalah Legenda.
Kebenaranya masih simpang siur karena belum adanya cukup bukti pendukung.

KEUNIKAN JANGER BANYUWANGI
Keunikannya di seni janger banyuwangi ini adalah Kesenian yang berhibrida dari pulau bali. Dari musik yang mengiringinya adalah Musik Bali ( gamelan Bali ) , sedangkan dalam pementasannya di selingi dengan lagu-lagu dan cerita, serta tarian dari bali dan banyuwangi.
Dari segi musik pengiring dalam pementasan, terdapat kolaborasi yang sangat indah dan unik sekali. Dalm pagelarannya kadang tiba-tiba musik Bali itu di sisipi dengan warna musik banyuwangi.Namun dalam alur cerita selalu di iringi dengan Gamelan bali,.Saat menyanyi di iringi musik banyuwangi.
Dalam cerita, janger membawakan cerita babad,legenda,mahabarata,bahkan cerita karangan sendiri. Unik memang, karena kalau ditelusuri ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya.
Yaitu,unsur Banyuwangi, unsur Bali, Unsur Surabaya/ludruk, Unsur jawa tengah/ketoprak. Begitu lengkapnya kesenian ini.

PAKAIAN DAN BAHASA
Pementasan yang memakan waktu 8-10 jam ini berbahasa jawa tinggi, namun untuk lawaknya biasa menggunakan bahasa asli banyuwangi atau di kenal dengan bahasa OSING. Sedangkan pakaiannya adalah terdiri dari berbagai adegan, untuk yang berperan sebagai jin( BRAWAK AN) selalu berpakaian bali,juga para pemain putrinya,selalu berpakain ala bali.
Namun ada juga yang berpakain ala ketoprak,jadi tegantung dengn peran yang di lakoninya. Banyak dari para seniman janger ini yang kadang pakain membawa sendiri, dan begitu kreatifnya sehingga kadang dalam peran apapun mereka bisa melaksanakanya.

LAKON DAN CERITA
Pementasan selalu ada lakon dan cerita, Namun soal lakon dan cerita ini biasanya dilaksanakan oleh para aktor/aktrisnya setelah ada permintaan dari penanggap atau yang mengundangnya minta lakon atau cerita apa yang harus di lakonkan pada pementasan tersebut.
Nah, disinilah peranan sesepuh atau sutradara yang akan mengelola lakon dan siapa saja yang berperan di dalamnya.
Lakon dan cerita bisa cerita babad tanah jawa, Mahabarata, atau bahkan cerita seperti layaknya di film, semua bisa mereka laksanakan tanpa latihan, dan live show.

TARI PENGIRING
Sebelum pementasan cerita,biasanya di iringi oleh tari yang di bawakan oleh seniman-seniman janger tersebut. Sedangkan Tariannya bermacam-macam, biasanya yang pasti di tarikan adalah tarian dari pulau bali, yaitu tari MARGAPATI.
Namun tarian dari banyuwangi sendiri banyak yang di bawakan saat pementasan sebagai pengiring,seperti TARI JEJER GANDRUNG,PUNJARI,GANDRUNG DOR, AJI JARAN GOYANG,SABUK MANGIR, dan lain-lain.

PERKEMBANGANYA
Untuk saat ini kesenian Janger yangt ada di kab.Banyuwangi sudah mencapai lebih dari 100 group/organisasi.Walaupun untuk saat ini banyak yang sudah senin-kemis dalam perkembangananya, namun masih ada yang sangat populer di mata masyarakat banyuwangi saat ini .
Ada beberapa organisasi yang cukup populer di banyuwangi, di antaranya, "SETYO KRIDHO BUDOYO" Parijatah wetan Kec. Srono yang di pimpin oleh Bripda Pol. Arief Yudistya. " DHARMA KENCANA" glondong yang di pimpin oleh I MADE SWEDEN. "SRI BUDOYO PANGESTU" Parijatah Wetan, yang di pimpin oleh Ir.Punto Hadi.
Nah itulah sedikit tentang Janger Banyuwangi.

Tari Erek-Erekan (Banyuwangi)

Posted by Kustio Delta Haryono Friday, 5 October 2012 0 comments
Tari Erek-Erekan (Banyuwangi)
Salah satu jenis tari daerah Banyuwangi yang diangkat dari motif pergaulan awal muda-mudi sebelum melangkah menuju saling mengenal antara satu dengan yang lain, didahului sikap tukar pandang karena hati yang telah saling terkena.

Tarian termasuk jenis tari pergaulan muda-mudi ini mengambil ide dasar dari salah satu gending Gandrung Banyuwangi Ngranjang Gula yang mengandung arti tradisi basanan bahasa Usinga Banyuwangi, berakhir dengan pengertian “erek-erekan”.

Ngranjang Gula dimaksudkan semacam keranjang dari anyaman daun nipah untuk tempat gula Jawa dari pohon aren biasa disebut “gula kerekan”. Dari ungkapan “gula kerekan” inilah kiranya lahir ungkapan “erek-erekan” yang berarti suatu tindak perbuatan kalangan muda-mudi daerahnya bersikap saling memandang saling melirik, saling mengamati dan saling ingin bertemu antara pasangan muda-mudi sebelum kenal intim.

Secara umum penyajian tari ini dengan ide garap puncak gending dan musik khas daerah Banyuwangi, antara lain pada gending Gandrung Gurit Mangir, Ngranjang Gula, Seblang, Senggol-senggolan, dan sebagainya, dengan motif romantis berikut iringan musik aransemen khas daerahnya.

Demikian penyajian tari “erek-erekan” dari basanan Using Banyuwangi “Ngranjang gula wis wayahe erek-erekan”.

Angklung Banyuwangi
Akhirnya dari kehidupan tani semacam ini, antara lain terlahir salah satu alat musik daerah dari bahan bambu yang secara evolusi menjadi anklung daerah yang kita kenal sekarang melalui perkembangannya dari Angklung Paglak. Keberadaan Angklung Paglak berasal dari kehidupan sehari-hari masyarakat tani di sawah. Semua Angklung ini biasa dibunyikan di dangau di tengah sawah disaat padi sedang menguning agar terbebas dari santapan burung.

Dalam perkembangan lebih lanjut Angklung Paglak mengalami perubahan, dilengkapi dengan beberapa peralatan tradisi yang lain sehingga mampu membawakan gending-gending daerah Banyuwangi yang dapat dinikmati. Menjadi lebih lengkap setelah masuknya peralatan gamelan yang terbuat dari besi dalam bentuk wilahan termasuk gong, kendang dan lain-lain, yang sekarang kita kenal sebagai Angklung Daerah Banyuwangi. Musik daerah ini dapat pula disajikan sebagai pengiring tarian dan lagu daerah sampai sekarang.

Fungsi Angklung
Kesenian Banyuwangi khususnya Angklung Bayuwangi, sampai sekarang menjadi favorit masyarakatnya, baik masyarakat Using sendiri maupun masyarakat Banyuwangi pendatang karena kesenian ini mampu memenuhi selera masyarakat dan memberikan hiburan segar.

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi, suatu keluarga yang punya hajat khitanan, pernikahan, ulang tahun ataupun kegiatan lain yang memerlukan hiburan, maka kesenian ini dapat difungsikan. Dalam perkembangannya sampai sekarang, Angklung Banyuwangi diangkat sebagai grup misi kesenian ke luar daerah, baik dalam bentuk lomba, festival maupun pagelaran biasa untuk hiburan. Dapar dirasakan berbagai jenis kesenian daerah termasuk tari kreasi daerah Banyuwangi, dapat dimanfaatkan untuk keperluan kegiatan di masyarakat.

Sebutan “erek-erekan” dari bahasa Using “erek” yang berarti “berperilaku seperti sikap dua ayam jantan sebelum berlaga”, belum mendekat dan belum bersentuhan, dengan jarak tertentu, saling pandang dan siaga. Perilaku demikian sebagai lukisan seorang jejakan terhadap seorang gadis yang belum saling mengenal, tetapi sudah sama terkena hatinya, saling berusaha berkenalan, saling mengereki, mendekat dan akhirnya terkabul kenal dan intim. Dengan sebutan “erek-erekan” dikandung maksud tarian yang melukiskan pasangan muda-mudi saling ingin mengenal dan memadu kasih, dengan iringan musik dan vokal daerah Banyuwangi.

Ide garap tari merupakan kombinasi beberapa puncak tari gandrung, sudah tentu dengan variasi dan penggarapan kreatif berikut vokal, dinamika, ritme musik pengiring secara harmonis. Dengan demikian ide garap pun meliputi puncak-puncak gending Banyuwangi, tarian gandrung Banyuwangi, musik daerah dengan versi gandrung menggunakan peralatan Angklung Banyuwangi bervariasi dengan waktu penyajian tidak lebih dari 10 menit.

Gerak tari dan urutannya
Penyajian gerak tari meliputi gerak tari daerah Banyuwangi dengan gerak tari gandrung, seblang, tari berpasangan, tradisi grindoan, tarian syahdu, gerak silat dan sebagainya.

Penggarapan gerak tari disusun sedemikian rupa menjadi gerak tari yang harmonis didukung dengan pola lantai termasuk ekspresi penari.

Urutan penyajian tariannya sebagai berikut: Tayongan sirik-sirigan, Gredoan, Gayoh lintang, Lemar-lemer, Tangar-tangar, Welas asih, Iming-iming, Pendadaran, Pencakan, Suko-suko. Eret-eretan, Awe-awe, Keloron-loron, Gebyar-layar.

Musik pengiring
Musik pengiringnya adalah Angklung Banyuwangi dengan aransemen khas Banyuwangi termasuk penggantian tempo dan dinamika musik tradisi daerah. Untuk peningkatan keindahan aransemennya, maka ditambah dengan patrol bambu, kluncing, biola dan sinden gandrung.

Urutan penyajian aranseman musik gending: Gemyar Blambangan, Sirigan, Jaranan, Ngranjang gula, Limar-limer, Tangar-tangar, Lemah bum/pasir, Iming-iming, Pencakan, Jogetan, eret-eredan. Selenan, Gurit mangir.

Tata busana
Penyajian busana tari secara umum penggambaran pasangan Jebeng-Thulik dengan perkembangan modofikasi untuk keindahan.

Secara singkat motif busananya:
  • Penari puteri mengenakan: a. asesoris jamangan di kepala, di atas rambut; b. hiasan bunga di rambut; c. sanggul rambut biasa dihias bunga; d. kebaya lengan panjang dengan baju dalam warna kontras; e. sabuk dengan pending pada bagian perut; f. kain panjang dengan kain penutup asesoris bagian atasnya.
  • Penari pria mengenakan: a. ikat kepala modifikasi; b. baju lengan panjang potong gulon berikut baju dalam dengan warna kontras; c. sabuk dengan pending pada perut; d. mengenakan celana panjang dengan kain penutup bagian atas.
Penyajian
  • Didahului musik pengiring selagi pembukaan.
  • Pada pentas ukuran menyesuaikan dengan iringan musik Angklung Banyuwangi.
  • Masuk ke pentas lima penari puteri kemudian lima penari pria dari arah pintu.
  • Diselang penyajian vokal yang memberikan gambaran penyajian atraksinya.
  • Pembentukan komposisi dengan gerakan tari menarik dengan dinamika musik pengiring.
  • Berakhir, kembali ke luar pentas dalam bentuk berpasangan yang semula belum saling mengenal.
Musik dan vokal
Musik pengiring adalah musik Angklung Banyuwangi dengan vokal sinden gandrung membawakan lagu atau gending seperti di bawah ini, namun tidak secara utuh.

Sinden gandrung dengan vokalnya.
a. Mocoan/uro-uro
b. Ngranjang gula:
  • Ngranjang gula wis wayahe erek-erekan yadoh paman wis auju kelendi.
  • Kayu cendak kang pinunjang soko kelibakan awak kulo yhadhoh kakang wis aju kelendi.
  • Kayu dowo kang pinunjang lambang sander-sanderan yoro awak kulo yadhuh kakang aju kelendi.
c. Guri dadaran:
  • Esuk-esuk aja megawe ngombe kopi yoro kancanono besuk besuk sopo kang duwe kadung kanti yoro antenono.
  • Abang-abang biru-biru deleng langet katon megane seng madang-madang sing turu-turu raino bengi katon rupane.
  • kelambi cemeng, selono cemeng dikumbah mosok lunturo emak seng-seneng bapak seng seneng dijegah mosok wurungo.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lir-ilir

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
lir Ilir” karya Sunan Kali Jaga.
Ada pesan yang mendalam dari lagu yang diciptakan salah satu wali songo yang terkenal di tanah jawa atau tanah jawi.
Lagu ini mengisahkan tentang perkembangan Islam pada waktu itu, dimana masyarakat jawa mulai banyak yang memeluk agama Islam dan juga raja-raja jawa yang diibaratkan seperti pengantin baru yang sedang menikmati bulan madu.
Sunan Kali Jaga ingin berpesan melalui lagu ini bahwa menyebarkan agama Islam tidaklah mudah. Butuh ketekunan serta kesabaran dan keberanian luar biasa agar Agama Islam bisa diterima dengan baik oleh masyarakat yang digambarkan melalui baitnya “Anak gembala/cah angon“. Anak gembala diibaratkan sebagai orang yang mampu menjadi imam yang baik bagi makmumnya yang mengajarkan syariat Islam. Syariat itu terdiri dari lima ajaran Islam. Buah belimbing mempunyai lima sisi sebagai gambaran rukun Islam yang lima.
Selagi masih ada kesempatan dan waktu yang masih tersisa, manusia-manusia yang bersih hatinya karena baru mengenal ajaran Islam diminta memperbaiki akhlaknya atau menjahit bajunya yang robek-robek. Yaitu pakaian ketakwaan kepada yang maha Esa.
Kelak ketika hari akhir telah tiba, manusia-manusia yang sudah berpakaian ketakwaan akan bersorak sorai menuju ridha Ilahi, karena telah siap bertemu dengan sang pencipta.
Lagu lir-ilir memberikan kita pelajaran, hendaknya manusia menyadari bahwa hidup di dunia ini tidak lama, seperti pohon padi. Sejatinya kita harus bangun (lir-ilir; ngelilir) seperti padi yg baru ditanam, tumbuh, menjadi besar, berbuah dan dipanen. Mempelajari syari’at dan menjalankan rukun Islam yang lima supaya tidak sesat dan terjerumus kedalam ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Asal-Usul Tari Pendet

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Tari Pendet diciptakan oleh I Wayan Rindi (1967), maestro tari dari Bali yang dikenal luas sebagai penggubah tari pendet sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Pada awal penciptaan, tarian ini merupakan tari pemujaan yang banyak dipentaskan di Pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Gerak Tari ini simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Tetapi, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Tari Pendet menjadi “tarian ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.
Diyakini bahwa Tari Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.Tari Pendet pernah menjadi sorotan dan heboh saat tampil di program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel.
Tindakan Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian dari budayanya amat disesalkan keluarga Wayan Rindi. Pada masa hidupnya, Wayan Rindi memang tak berfikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain. Selain belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah di patenkan karena kandungan nilai spiritualnya yang luas dan tidak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu.
Namun pemerintah Malaysia menyatakan kalau mereka tidak bertanggung jawab atas iklan tersebut karena dibuat oleh Discovery Channel Singapura hingga akhirnya Discovery TV melayangkan surat permohonan maaf kepada kedua negara, dan menyatakan bahwa jaringan televisi itu bertanggung jawab penuh atas penayangan iklan program tersebut.
Meskipun demikian, insiden penayangan pendet dalam program televisi mengenai Malaysia ini sempat memicu sentimen Anti-Malaysia di Indonesia. Kasus klaim Malaysia terhadap Tari Pendet, yang erat terkait dengan tata upacara keagamaan Hindu Bali, sungguh tidak masuk akal mengingat negeri Malaysia berbasis penduduk beragama Islam. Apalagi dilihat dari aspek kesejarahan, Hindu Bali pasti jauh lebih tua daripada Malaka, cikal-bakal Malaysia. Malaka sendiri didirikan oleh Prameswara, bangsawan Sriwijaya yang bertransmigrasi secara sukarela melalui Tumasik (sekarang Singapore) saat Majapahit menguasai Palembang sebagai ibukota Sriwijaya kala itu.
Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia, juga menegaskan bahwa menarikan tari Pendet atau memendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali. Jadi bagaimana mungkin Malaysia mengklaimnya?
Itulah penjelasan mengenai seni tari pendet dari bali, sejarah, dan gerakan tari pendet. Semoga dapat menambah pengetahuan kamu mengenai seni tari di Indonesia.

Tari Merak

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Tari Merak populer di tanah Jawa. Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki versinya masing-masing. Bisa ditarikan solo, bisa juga ditarikan bersama ( beberapa penari ). Tari kreasi baru dari Jawa Barat ini untuk menyambut tamu kehormatan atau pengantin lelaki yang menuju pelaminan. Diciptakan tahun 1950-an oleh Raden Tjetjep Somantri, koreografer tari Sunda. Irawati Durban Arjon, pecinta seni tari dari Bandung, kembali mengkreasikannya tahun 1965. Irawati merevisinya lagi ( tahun 1985 ) dan diajarkan pada Romanita Santoso ( tahun 1993 )
Beberapa wanita menarikannya dengan kostum merak berwarna merah, kuning, hijau, dll. Seperangkat gamelan Sunda mengiringi gerak gemulai para penari : meloncat anggun dan mengepak sayap lincah bak merak jantan menarik perhatian merak betina. Selendang serupa sayap dengan warna senada terikat di pinggang penari yang bermahkota replika kepala burung merak. Sayap penuh payet dibentangkan penari dengan indah. Mahkota siger bergoyang ketika penari menggerakkan kepala. Merak jantan yang terkenal pesolek, memamerkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan aneka warna. Rayuan terbaik dilanjutkan ritual perkawinan. Mempesona.
Berkat Tari Merak, satu dari segudang khasanah tari yang kita miliki, budaya Indonesia diperkenalkan ke seluruh dunia. Go internasional. Berharap, nama Indonesia kian populer ( dan harum ). Syukurlah, jika kisah dan tarian khas ini disukai orang asing. Apalagi kita. Betul ?

Tari Barong Dan Tari Kecak

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Tari Borong Dan Tari Kecak
Bukan hanya keindahan alamnya saja yang menarik dari Bali, namun keagungan tradisi masyarakatnya juga banyak menarik bahkan banyak dikaji oleh orang-orang diluar Bali. Sebagaimana diketahui Bali memang kaya akan berbagai kesenian tradisional, pakaian adat, bahasa, dan tradisi keagamaan yang mewarnai realitas kehidupan masyarakat Bali. Ialah Tari Barong dan Tari Kecak yang menjadi salah satu tarian tradisional khas Bali yang sudah terkenal kemana-mana.
Apa menariknya dari kedua tarian ini? Kedua tarian ini bisa dikata sebagai ikon kesenian tradisional Bali yang diangkat ke level nasional bahkan internasional. Seringkali kedua tarian ini dijadikan sebagai media promosi efektif paket-paket wisata di Bali oleh berbagai agen dan biro perjalanan wisata. Bahkan hampir seluruh agen maupun biro perjalanan wisata ke Bali selalu mengajak tamunya untuk menyaksikan Tari Barong dan Tari Kecak ini.
Pada umumnya, kedua tarian ini diadakan oleh sebuah kelompok (Sakeha) seni tari tradisional yang ada di setia-setiap desa di Bali. Seperti di Desa Batubulan misalnya, terdapat beberapa Sakeha yang memiliki jenis tarian yang sama dengan Sekeha lainnya. Perbedaan diantara kelompok-kelompok itu ada pada bentuk pelayanan dan tempat pertunjukkannya saja. Pada setiap pertunjukkan di Batubulan, biasanya tarian pertama yang digelar adalah Tarian Barong yang digabung dengan Tari Keris sehingga keduanya dikenal dengan Tari Barong dan Tari Keris.
Tari Barong
Tari Barong mengambarkan pertarungan yang sengit antara kebaikan melawan kejahatan. Barong vs Rangda ialah dua eksponen yang saling kontradiktif satu dengan yang lainnya. Barong dilambangkan dengan kebaikan, dan lawannya Rangda ialah manifestasi dari kejahatan. Tari Barong biasanya diperankan oleh dua penari yang memakai topeng mirip harimau sama halnya dengan kebudayaan Barongsai dalam kebudayaan China. Sedangkan Rangda berupa topeng yang berwajah menyeramkan dengan dua gigi taring runcing di mulutnya.
Tari Kecak
Tari Kecak pertama kali diciptakan pada tahun 1930 yang dimainkan oleh laki-laki. Tari ini biasanya diperankan oleh banyak pemain laki-laki yang posisinya duduk berbaris membentuk sebuah lingkaran dengan diiringi oleh irama tertentu yang menyeruakan “cak” secara berulang-ulang, sambil mengangkat kedua tangannya. Tari Kecak ini menggambarkan kisah Ramayana di mana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

Tari Remong (Malang-Jatim)

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Tari Remo berasal dari Malang, Jawa Timur[rujukan?]. Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk. Namun, pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah. Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan.
Menurut sejarahnya, tari remo merupakan tari yang khusus dibawakan oleh penari laki – laki. Ini berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini. Pertunjukan tari remo umumnya menampilkan kisah pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Sehingga sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini.
Berdasarkan perkembangan sejarah tari remo, dulunya tari remo merupakan seni tari yang digunakan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi dari tari remo pun mulai beralih dari pembuka pertunjukan ludruk, menjadi tarian penyambutan tamu, khususnya tamu – tamu kenegaraan. Selain itu tari remo juga sering ditampilkan dalam festival kesenian daerah sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa Timur. Oleh karena itulah kini tari remo tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga oleh penari wanita. Sehingga kini muncul jenis tari remo putri. Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria.

Tata Gerak

Karakteristika yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.

Tata Busana

Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan.

Busana gaya Surabayan

Terdiri atas ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang masing-masing ujung selendang. Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa kumpulan lonceng yang dilingkarkan di pergelangan kaki.

Busana Gaya Sawunggaling

Pada dasarnya busana yang dipakai sama dengan gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni penggunaan kaus putih berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan.

Busana Gaya Malangan

Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan jarum.

Busana Gaya Jombangan

Busana gaya Jombangan pada dasarnya sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penari tidak menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi.

Busana Remo Putri

Remo Putri mempunyai busana yang berbeda dengan gaya remo yang asli. Penari memakai sanggul, memakai mekak hitam untuk menutup bagian dada, memakai rapak untuk menutup bagian pinggang sampai ke lutut, serta hanya menggunakan satu selendang saja yang disemat di bahu bahu.

Pengiring

Musik yang mengiringi Tari Remo ini adalah gamelan, yang biasanya terdiri atas bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek, Gedok Rancak, Krucilan atau gending-gending kreasi baru. Dalam pertunjukan ludruk, penari biasanya menyelakan sebuah lagu di tengah-tengah tariannya.

Asal-Usul Tarian Kuda Lumping

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.
Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
== Sejarah == Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Variasi Lokal

Di Jawa Timur, seni jathilan ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti Malang, Nganjuk, Tulungagung, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dalam pementasanya, tidak diperlukan suatu koreografi khusus, serta perlengkapan peralatan gamelan seperti halnya Karawitan. Gamelan untuk mengiringi tari kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.
Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.

Pagelaran Tari Kuda Lumping

Seorang pemudi bermain kuda lumping
Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.

Kesenian Prabu Roro

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments

Wisata Budaya Kesenian Prabu Roro

Praburoro adalah suatu bentuk drama tari yang lakon-lakonnya bersumber dari hikayat Amir Hamzah yang membawakan cerita-cerita dari Tanah Persi yang masuk ke Indonesia bersama dengan masuknya kebudayaan Islam ke Indonesia. Jenis kesenian ini disebut Praburoro karena sering membawakan lakon dengan tokoh Roro Rengganis yang arenanya disebut Praburoro. Kesenian ini dimainkan oleh 40-50 orang dalam 3 grup dengan diiringi gamelan Jawa bernad slendro.


Sumber: www.banyuwangikab.go.id

Asal Usul Tarrian Gandrung

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Gandrung merupakan Induk Kesenian Banyuwangi dan gandrung itu pun berasal dari banyuwangi didalam gandrung itu sendiri dilengkapi dengan angklung, gamelang, gendering – gendering. Didalam angklung terbagi menjadi dua yang pertama Angklung selisih yaitu angklung dengan satu perangkat dan yang kedua Angklung Janik yaitu angklung dengan dua perangkat.

Didaerah Banyuwangi ada seorang wanita yang bernama Mesti, dya lahir 5 Juli 1954 malam Kamis Wage. Saat dya lahir Bapaknya tidak ada dirumah karena pada saat itu bapaknya sedang bekerja di Kawah Ijen, kenapa dya bias diberi nama mesti karena dya lahir dimalam hari.

Sejak Mesti berusia 6 bulan dya selalu sakit- sakitan dan pada saat mesti selalu sakit- sakitan ada seorang wanita yang tidak mempunyai anak mengangkat mesti menjadi anaknya wanita itu yang tak lain adalah Budenya sendiri. Melihat mesti terus sakit –sakitan budenya pun merasa kasihan dan tak tega mellihat keadaan mesti yang terus-terusan sakit, budenya punsempat berkata dan berjanji apabila Mesti sembuh dya akan dijadikan seorang penari gandrung.

Dulu sebelum ada penari gandrung wanita ada pula gandrung yang ditarikan oleh seorang lelaki dengan memakai pakaian wanita yang biasanya disebut Gandrung Larang.Setelam Mesti beranjak dewasa yang berumur 15 tahun pada tahun 1969 dya mulai belajar menari gandrung dan ada yang mengajarkannya, dya diajarkan berbagai macam tarian diantaranya gending, erang – erang, embang – embang, tari jejeran, gerang kalong, seblangan, dan tari topeng. Setelah dya belajar dan mendalami semua tari gandrungdya pun begitu mahir, pada saat dya masih muda dya dijuluki Gandrung Temu. Beberapa bulan berikutnya dya banyak sekali yang mengundang tetapi untuk menghadirkan mesti untuk menari gandrung harus mencari waktu yang kosong karena mesti begitu sibuk menari disetiap acara. Didalm acara tersebut mesti harus melayani tamunya dengan sikap sopan dan ramah, tetapi disetiap ada acara pementasan atau pun undangan harus ada Sesajen / Peras karena apabila tidak sesajen atu Peras maka salah seorang pemain akan sakit atau berhalangan hadir.

Soemanti Hadi seorang pengamat Gandrung menjelaskan bahwa gandrung mempunyai cirri khas tersendiri yaitu Tata Gerak, Tata Iringan dan Vocal. Gandrung adalah Tari pergaulan dan ada tiga tahapan penyajian dari gandrung.

* Tahap Jejer Gandrung

Didalam tahap ini penari menyanyi sendiri diawali dengan nyanyian Odo nonton dan diakhiri dengan nyanyian Jarak Jauh

* Tahap Pacu Gandrung

Didalam tahap ini penari melayani para tamu dan para penonton, pada tahapan adegan ini kadang – kadang banyak adegan yang kurang sopan dan diluar norma misalnya adegan ingin mencium sipenari yang lebih tragis dengan adanya campuran minuman keras.

Karena banyak adegan – adegan yang diluar norma minat para generasi muda sangatlah terpengaruh untuk menjadi penari gandrung

Gerak dasar penari banyuwangi yaitu menyangkut Sikap Pokok, Cara berdiri dalam menari dan SIkap Kaki ( Sikap Tubuh ). Dalam Pembimbingan Kesenian terdiri dari dua jalur gandrung yang Pertama Jalur Tradisional yaitu dimana Prosesnya alami, kualitasnya tergantung pada tingkat kesempurnaan si Penari. Yang Kedua Jalur akademis yaitu jalur yang memiliki niali fungsi contohnya lewat jalur pendidikan Formal lebih berbobot karena dengan ilmu – ilmu yang sistematis.

* Tahap Sublang Subuh

Didalam tahap ini Penari menyanyi dengan Pentun – pantun.

Tahun 1977 Mesti Menikah saat dya berusia 18 tahun dan Suaminya berusia 20 tahun yang bernama Cipto, pada saat itu mereka sama – sama masih muda dan Ibunya Cipto tidak setuju dengan Profesi Mesti seorang penari gandrung akhirnya merekapun bercerai, selang beberapa tahunMesti pun menikah dengan seorang laki-laki yang bernama Ridwan. Tetapi dalam pernikahannya mesti tidak bahagia karena Ridwan selalu bermain Perempuan mesti pun tidak tahan dengan perlakuan Ridwan, mesti pun sakit hati dan lagi-lagi dya bercerai.

Mesti menikah beberapa kali tetapi dya tidak mempunyai anak, dya selalu berharap kelak mendapatkan jodoh yang baik dan bertanggn\ung jawab Mesti juga berharap mempunyai anak yang berbakti,soleh dan berpendidikan tinggi dya tidak ingin anaknya menjadi penari Gandrung seperti dya.

ANALISIS

Dari cerita film diatas kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang tertanam seperti.

* Nilai harapan Komunitas Penari berharap bahwa penari Gandrung tidak akan punah dan masih Eksis / berkembang

* Manyarakat menganggap rendah Penari gandrung tetapi anggapan itu sangatlah salah karan Penari selalu melayani tamu maupun penonton dengan penuh kesopanan dan bersikap ramah, Penari juga menari dengan penuh tanggung jawab
* Banyak nilai – nilai norma yang tidak pantas seperti berani mencium sipenari saat sedang menari
* Nilai keindahan dari tari gandrung adalah Tarian gandrung adalah tarian yang mempunyai ciri khas tersendir
* Nilai Intrinsik dari sebuah tarian Gandrung ialah pesan yang disampaikan didalam gerakan tari itu sendiri
* Niali ekstrinsik ialah aksesoris-aksesoris yang dipakai oleh sipenari mempunyai makna tersendiri.

Sumber : google.com

Asal Usul Reog Ponorogo

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Singo Barong dan Kelana Suwandana adalah dua orang saudara seperguruan yang telah lama menjadi musuh bebuyutan. Permusuhan keduanya makin meruncing saat mereka secara bersamaan mengikuti sebuah sayembara dengan tiga persyaratan yang sangat mustahil untuk dipenuhi.
Pada sayembara dimana pemenangnya bisa menikahi putri cantik Sanggalangit yang juga anak penguasa terkemuka di Kediri, peserta diharuskan mempersembahkan tiga syarat yaitu seratus empatpuluh empat ekor kuda kembar lengkap dengan penunggangnya yang tampan, mahluk berkepala dua, dan tontonan menarik yang belum pernah disaksikan siapapun.
Iri Singo Barong makin menjadi saat tahu saingannya berhasil mendapatkan seratus empatpuluh empat ekor kuda yang tidak cuma kembar namun juga memiliki surai dan ekor berwarna emas. Dengan licik, ia memerintahkan orang kepercayaannya untuk merebut persyaratan pertama yang telah sukses dipenuhi Kelana Suwandana tersebut.
Akibatnya terjadi pertempuran sengit yang memakan banyak korban dari kedua belah pihak, bahkan akhirnya Singo Barong dan Kelana Suwandana harus berhadapan dan bertarung. Singo Barong nyaris saja menang, sayang matahari terbit yang menjadi pantangannya keburu muncul.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kelana Suwandana, yang berhasil mengubah sosok Singa Barong menjadi mahluk berkepala dua di akhir pertarungan mereka. Kepala yang pertama adalah singa, sementara yang kedua berwujud merak, mahluk peliharaan Singa Barong yang selama ini bertengger dikepalanya untuk membersihkan kutu di kepala pria itu.
Siapa sangka, Singo Barong yang telah berubah wujud singa-merak membuat Kelana Suwandana sukses memenuhi syarat kedua. Untuk syarat ketiga, Kelana mengarak Singo Barong yang telah berubah wujud menjadi singa sambil diiringi gamelan unik yang terbuat dari bambu dan kayu.
Pada akhirnya, Kelana Suwandana tampil sebagai pemenang. Tidak cuma menikahi Sanggalangit dan menjadi penguasa Kediri, ia juga mewariskan kesenian arak-arakan singa dan gamelan yang kini dikenal dengan nama Reog Ponorogo.(indosiar.com/4nd/mdL)

Peristiwa Gerbong Maut

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Peristiwa Gerbong Maut

Belanda melakukan penangkapan besar-besaran terhadap TRI, lasakar, gerakan bawah tanah dan orang-orang tanpa menghiraukan apakah yang bersangkutan berperan atau tidak dalam kegiatan perjuangan. Sehingga dalam waktu singkat penjara Bondowoso tidak mampu lagi menampung tahanan yang pada waktu itu mencapai ± 637 orang. Belanda bermaksud memindahkan tahanan yang termasuk "pelanggaran berat" dari penjara Bondowoso ke penjara Surabaya. Untuk mengangkut para tahanan tersebut digunakan sarana kereta api.

Setiap tahap pengangkutan memuat sebanyak 100 orang. Pemindahan pertama dan kedua berjalan dengan baik karena gerbong yang mengangkut tahanan diberi ventilasi seluas 10-15 cm. Namun saat pemindahan tahap ketiga, gerbong tertutup sangat rapat dan selama perjalanan rakyat tidak boleh mendekati gerbong. Akibatnya, semua tahan dalam gerbong menderita kelaparan dan kehausan. pPemindahan tahap ketiga inilah yang dikenal dengan sebutan "Gerbong Maut".

Setelah mendapat perintah langsung dari Komandan J Van den Dorpe, Kepala Penjara mengumpulkan semua tahanan yang telah tercatat namanya. Pada Sabtu, 23 November 1947, jam 04.00 WIB, tahanan yang tercatat dibangunkan secara kasar lalu dikumpulkan di depan penjara. Rincian tahanan adalah sebagai berikut: rakyat desa (20 orang), kelaskaran rakyat dan gerakan bawah tanah(30 Orang), anggota TRI (30 orang), dan tahanan rakyat serta polisi (20 orang). Pada jam 05.30 WIB tahanan tiba di Stasiun Kereta Api Bondowoso. Sebanyak 32 orang masuk gerbong pertama yang bernomor GR 5769; 30 oarang ke gerbong kedua yang bernomor GR 4416, sisanya berebutan masuk ke gerbong yang terakhir bernomor GR 10152 karena panjang dan masih baru.

Pada jam 07.00 WIB kereta dari Situbondo datang. maka, saat itu juga gerbong digandeng. Menurut Ru Munawar yang masuk gerbong pertama, setelah gerbong dikunci, keadaan menjdi gelap gulita dan udara tersa panas walaupun masih pagi. Jam 07.30 kereta bergerak menuju Surabaya. tepat di Satsiun Taman, mulai terjadi peristiwa memilukan, Kiai Samsuri 50 Tahun, membanting-bantingkan tubuhnya sambil berteriak kepanasan. Jangankan diisi 30 Orang, 10 orang saja sudah terbayang panasnya. gedoran-gedoran para tahanan sudah tidak digubris bahkan dijawab dengan bentakan pedas; "Biar kalian mapus semua, hai anjing ekstrim!, atau "Di sini tidak ada makanan dan air minum, yang ada cuma peluru".

Ketika tiba di Stasiun Kalisat, gerbong tahanan harus menunggu kereta dari banyuwangi. Selama dua jam para tahanan berada dalam terik matahari. Akhirnya pada jam 10.30 WIB kereta baru berangkat dari Jember ke Probolinggo. Setelah meningglkan Jember di siang hari, suasana gerbong bagaikan didalam neraka karena atap dan dinding gerbong terbuat dari plat baja.Banyak terjadi peristiwa diluar batas kemanusiaan, misalnya guna mempertahankan hidup dari kehausan sebagian para tahanan terpaksa meminum air kencing tahanan yang lainnya.

Mendekati Stasiun Jatiroto, Allah SWT menebarkan rahmat-NYA. Hujan yang cukup deras dimanfaatkan para tahanan yang masih hidup untuk meneguk tetes demi tetes air dengan menjilat tetesan air yang berasal dari lubang-lubang kecil.Tidak demikian halnya dengan gerbong ketiga GR10152. karena masih baru, para tahanan tidak mendapatkan tetesan air sedikitpun. Ketika sampai di Surabaya, dalam gerbong ketiga (GR10152) tidak ada satupun yang hidup.

Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam, Gerbong Maut sampai di Stasiun Wonokromo. Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Setelah didata, di gerbong I No. GR 5769 sebanyak 5 sakit keras, 27 orang sehat tapi kondisi lemas lunglai, Gerbong II No. GR.4416 sebanyak 8 orang meninggal, 6 orang sehat, dan di Gerbong III No. GR. 10152 seluruh tawanan sebanyak 38 orang meninngal semua.

Para tahanan yang sehat dipaksa menganggkut temannya yang sudah meninngal. Semua jenazah diletakkan secara sejajar. Setelah dievakuasi, lalu diangkut ke truk yang telah disediakan. Jenazah harus diangkut dengan sangat hati-hati sebab kalau tidak maka daging jenazah akan mengelupas akibat kepanasan.


http://kotabondowoso.blogspot.com/20...bong-maut.html

Sejarah Kabupaten Bondowoso

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Kabupaten Bondowoso, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Bondowoso. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Kabupaten Banyuwangi di timur, Kabupaten Jember di selatan, serta Kabupaten Probolinggo di barat. Ibukota kabupaten Bondowoso berada di persimpangan jalur dari Besuki dan Situbondo menuju Jember.

 

 

Sejarah

Semasa Pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki mengalami kemajuan dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat kaum pedagang luar. Dengan semakin padatnya penduduk perlu dilakukan pengembangan wilayah dengan membuka hutan yaitu ke arah tenggara. Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas untuk membuka hutan tersebut. usul itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas tersebut. Kemudian Kiai Ronggo Suroadikusumo terlebih dahulu menikahkan Mas Astotruno dengan Roro Sadiyah yaitu putri Bupati Probolinggo Joyolelono. Mertua Mas Astrotruno menghadiahkan kerbau putih “Melati” yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah) untuk dijadikan teman perjalanan dan penuntun mencari daerah-daerah yang subur.
Pengembangan wilayah ini dimulai pada 1789, selain untuk tujuan politis juga sebagai upaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitas wilayah yang dituju penduduknya masih menyembah berhala. Mas Astrotruno dibantu oleh Puspo Driyo, Jatirto, Wirotruno, dan Jati Truno berangkat melaksanakan tugasnya menuju arah selatan, menerobos wilayah pegunungan sekitar Arak-arak “Jalan Nyi Melas”. Rombongan menerobos ke timur sampai ke Dusun Wringin melewati gerbang yang disebut “Lawang Seketeng”. Nama-nama desa yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaiitu Wringin, Kupang, Poler dan Madiro, lalu menuju selatan yaitu desa Kademangan dengan membangun pondol peristirahatan di sebelah barat daya Kademangan (diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang.
Desa-desa yang lainnya adalah disebelah utara adalah Glingseran, Tamben dan Ledok Bidara. disebelah Barat terdapat Selokambang, Selolembu. sebelah timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Praje,kan dan Wonoboyo. Sebelah selatan terdapat Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, Keting. Jumlah Penduduk pada waktu itu adalah lima ratus orang, sedangkan setiap desa dihuni, dua, tiga, empat orang. kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing dan disebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan) yang dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak ±400 meter disebelah utara alun-alun.
Pekerjaan membuka jalan berlangsung dari tahun 1789-1794. Untuk memantapkan wilayah kekuasaan, Mas Astrotruno pada tahun 1808 diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah “Demang Blindungan”. Pembangunan kotapun dirancang, rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Dimana alun-alun tersebut semula adalah lapangan untuk memelihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno, karena disitu tumbuh rerumputan makanan ternak. lama kelamaan lapangan itu mendapatkan fungsi baru sebagai alun-alun kota. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur. Mas Astrotruno mengadakan berbagai tontonan, antara lain aduan burung puyuh (gemek), sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi guna menghibur para pekerja. tontonan aduan sapi diselenggarakan secara berkala dan menjadi tontonan di Jawa Timur sampai 1998. Atas jasa-jasanya kemudian Astrotruno diangkat sebagai Nayaka merangkap Jaksa Negeri.
Dari ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” didapat keterangan bahwa pada tahun 1809 Raden Bagus Asrah atau Mas Ngabehi Astrotruno dianggkat sebagi patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso. Adapun tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan kota diubah namanya menjadi Bondowoso, sebagai ubahan perkataan Wana Wasa. Maknanya kemudian dikaitkan dengan perkataan Bondo, yang berarti modal, bekal, dan woso yang berarti kekuasaan. makna seluruhnya demikian: terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan keras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.
Meskipun Belanda telah bercokol di Puger dan secara administrtatif yuridis formal memasukan Bondowoso kedalam wilayah kekuasaannya, namun dalam kenyataannya pengangkatan personel praja masih wewenang Ronggo Besuki, maka tidak seorang pun yang berhak mengklaim lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal ini dikuatkan dengan pemberian izin kepada Beliau untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki.
Pada tahun 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan predikat Ronngo I. Hal ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H atau 17 agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebagai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1829-1830.
Pada 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri dan kekuasaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangku antar 1830-1858 dengan gelar M Ng Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang atau jalan S Yudodiharjo (jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat sebagi “Kabupaten lama”.Setelah mengundurkan diri, Ronggo I menekuni bidang dakwah agama Islam dengan bermukim di Kebun Dalem Tanggul Kuripan (Tanggul, Jember), Ronggo I wafat pada 19 Rabi’ulawal 1271 H atai 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun. jenazahnya dikebumikan disebuah bukit (Asta Tinggi) di Desa Sekarputih. Masyarakat Bondowoso menyebutnya sebagai “Makam Ki Ronggo”.

Melestarikan Singo Ulung

Posted by Kustio Delta Haryono 0 comments
Liputan6.com, Bondowoso: Pemerintah Hindia Belanda pernah melarang Kesenian Singo Wulung dipentaskan oleh warga Bondowoso, Jawa Timur. Sebab, bangsa Kolonial tidak suka tema yang diangkat dalam kesenian warisan Raden Singo Wulung ini menjadi alat perlawanan terhadap mereka. Tapi itu dulu. Kini, penduduk Bondowoso leluasa mementaskan Singo Wulung sebagai wujud rasa syukur atas berkah yang diterima. Seperti juga yang dilakukan di Desa Blimbing yang menggelar kesenian tradisional itu pada acara selamatan bersih desa, baru-baru ini.

Seni tari Singo Wulung mengisahkan perjuangan seorang satria asal Kadipaten Blambangan bernama Raden Singo Wulung, sekitar abad 18. Ketika itu, Raden Singo Wulung berjuang melawan Majapahit yang mencoba menghancurkan kerajaannya. Bala tentara Kadipaten Blambangan cerai berai diserbu Kerajaan Majapahit dan melarikan diri ke daerah Blimbing, Kecamatan Tamanan, Bondowoso.

Selama mengungsi ke Desa Blimbing, Raden Singo Wulung menciptakan tarian yang menceritakan refleksi perjalanan hidupnya. Banyak gerak-gerik tariannya diilhami perilaku hewan seperti harimau dan singa yang juga disakralkan penduduk setempat. Harimau melambangkan keteguhan hati Raden Singo Wulung melawan segala godaan hawa nafsu. Akhirnya, setelah ia wafat, warga masih menggelar tarian Singo Wulung pada Bulan Ruwah menurut kalender Jawa.(KEN/Christanto Raharjo)

TEMPERATURE CONVERTER

KALENDER

WINDOWS LIVE MESSENGER